‘Perempuan Tanah Liat’ Desa Pulutan, Sulawesi Utara

‘Perempuan Tanah Liat’ Desa Pulutan,  Sulawesi Utara 

Jika menyebut Sulawesi Utara, biasanya orang akan mengingat taman laut Bunaken yang indah,  danau Linow dan Tondano yang cantik, kota Tomohon yang berbunga-bunga, kuliner ikan laut nan segar, sambal dabu-dabu, rica-rica dan juga klaapertart.

Sesungguhnya, selain keindahan alam dan kelezatan kulinernya, provinsi Sulawesi Utara juga menyimpan kekayaan lain. Kerajinan gerabah. Jika Yogyakarta memiliki Kasongan sebagai sentra gerabah, maka Sulawesi Utara memiliki Desa Pulutan yang berjarak 31 km dari kota Manado, ke arah  danau Tondano. Desa yang merupakan bagian dari kecamatan Remboken ini terdiri dari kurang lebih 200 kepala keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai pengrajin gerabah. Sama halnya dengan  pusat pengrajin gerabah lainnya, keterampilan memilih tanah, mengolah, membentuk, membakar dan menghias gerabah merupakan warisan turun temurun dan telah menjadi tradisi di desa Pulutan.

Desa Pulutan sendiri memiliki berbagai kelompok pengrajin gerabah. Salah satunya adalah Kelompok Aster yang terdiri 18 orang perempuan. Kelompok ini berdiri di tahun 2015 lalu dan diketuai oleh Ibu Aneke S Ngantung. Ibu Aneke melihat ada banyak ibu yang memiliki keterampilan yang berbeda-beda namun tidak terwadahi dengan baik.  Inilah yang mendorongnya untuk membentuk kelompok Aster. Dalam proses pengembangan karya dan jaringannya, Kelompok Aster didukung oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Utara yang melihat potensi para ibu berusia  40-50-an tahun ini dalam pengembangan ekonomi dan pemberdayaan perempuan Sulawesi Utara.

foto yang lain klik disini

Industri kerajinan membutuhkan proses kreatif yang tak berhenti. Para Ibu Kelompok Aster merasakan bahwa proses kreatif membutuhkan berbagai stimulasi pemantik ide. Dalam pembuatan ragam bentuk gerabah, mereka tidak menemui kesulitan. Namun dalam aspek finishing yang akan membuat tampilan gerabah menjadi cantik dan unik, mereka masih merasa perlu mengembangkan wawasan dan keterampilan.

Untuk itulah Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Utara kembali menggandeng Whani Dproject sebagai mitra pelaksana program pengembangan kapasitas para perempuan pengrajin ini.  Pada tanggal 11 Desember, mereka terbang sejauh 1900km menuju kota Yogyakarta untuk mempelajari berbagai metode finishing gerabah. Tempat yang dipilih sebagai arena menimba  ilmu adalah Sentra Gerabah Kasongan, tepatnya di Unit Pelatihan Teknis Koperasi Setya Bawana.

Di tanggal 12-16 Desember, selama 5 hari penuh para ‘perempuan tanah liat’ ini berlatih di  koperasi yang dipamongi oleh Dr. Timbul Raharjo. Teknik finishing dengan menggunakan cat tembok, pecahan kulit telur, kaca, pasir, dan berbagai media lain dipelajari di sana. Mereka akan berkreasi dan bereksplorasi. Mereka akan distimulasi untuk mencipta dengan menggunakan bahan yang banyak terbuang di desa mereka.  Tim WhaniDProject juga akan memfasilitasi mereka untuk mengunjungi sentra gerabah Bayat di Klaten pada tanggal 17 Desember. Mengajak Kelompok Aster mengenal teknik putaran miring di Klaten, yang hanya ada satu-satunya di dunia ini.

Selain berlatih teknik finishing gerabah, kelompok perempuan pengrajin ini juga didorong untuk melenturkan ‘otot kreativitas’ mereka. Sebagai lembaga dengan basis seni peran, WhaniDproject menggunakan metode theatre game dalam melatih fokus serta menjaga semangat dan inisiatif untuk berkreasi.  Ibu-ibu kelompok Aster juga diberi kesempatan bermain dan berproses bersama kelompok Theatre By Request. Dalam momen selama 2 jam, mereka dapat  menyaksikan dan merasakan pengalaman kreatif dan makna improvisasi.  Metode ini dipergunakan untuk menularkan semangat bekerja dengan gembira. Karena bekerja dengan gembira akan mengalirkan energi bahagia yang memancar dalam karya.

WhaniDproject mengucapkan selamat belajar kepada para Ibu yang luar biasa ini. Semoga segala ‘provokasi’  yang dirancang akan membuat mereka menjadi perempuan yang semakin terampil dan tangguh.  Semakin muda karena tidak pernah berhenti  belajar.

Karena begitulah para perempuan tanah liat. Mereka semakin menjadi dipanggang api.

Kasongan, 13 Desember 2016

SR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.